Rabu, 21 Maret 2012

Cantik kata Media



Cantik ini kata yang orang suka. Orang kebanyakan termasuk saya. Sebuah istilah atau  wakil ungkapan hati pada sesuatu yang menarik hati dikarenakan bagus secara fisik. Cantik mengacu pada sebuah keindahan mata. 

Menggambarkan seseorang cantik itu utamanya pada ciri-ciri fisik. Berambut panjang terurai sedikit ikal. Wajah tirus, hidung mancung mata lentik. Pipi akan lebih menarik dengan lesung pipit. Kulit putih mulus. Tubuh proporsional. Lekat pada kata sintal atau semok. Kaki seperti menjangan.

Yang orang bilang, seperti kijang berlari itu. Ramping dan kokoh. Tangkas namun gemulai. Alamak jang!...


Orang-orang cantik ini sering muncul di media massa. Di sampul majalah. Di baligho telepon seluler atau iklan mini produk elektronik. 

Mereka adalah manusia dengan kategori cantik. Perempuan-perempuan yang bergaya di pemilihan putri pariwisata, kontes kecantikan tingkat RT atau putri Indonesia tercinta ini. Dunia mahfum dengan acara Kontes Miss Universe. Meski didemo saban tahun.

Mereka adalah istimewa. Bagi yang berkategori cantik, bersiap sedia dalam program seleksi super ketat dalam memilih pasangan. Sebab kumbang seolah datang dari segala penjuru angin. Kumbang ini datang tak diundang dan kadang sukar diusir.

Mereka yang pertama mendapat tatapan mata. Pertama mendapat ungkapan cinta. Pertama mendapat tawaran payung ketika hujan. Duduk paling utama. Spesial lekat lagi dengan cantik.

Saya teringat pada kalimat seorang teman wanita. Dulu ketika masa kuliah. Ketika mengutarakan kata cantik. Teman langsung bertanya. Seperti apa sih orang cantik itu?

Bagi saya mereka adalah seperti Tamara Blezenski.

Ia tak setuju, lalu menggugat dengan tanya, kata siapa?

Saya jawab kata orang-orang ramai.

Ia bilang, orang-orang mana?

Nah loh…bukan kah setiap orang sepakat bilang bahwa Tamara Blezenski itu cantik alang kepalang. Untung saja tak ada lowongan jadi Bidadari. Kalau ada, mungkin kita akan susah mencarinya sebab ia telah terbang ke Kayangan itu.

Bagi teman saya, cantik itu relatif. Ia sebuah konsep yang diciptakan oleh media. Media yang bilang bahwa ciri-ciri diatas itu cantik. Media yang mengkonstruksi realitas sebuah makna cantik. Lengkap dengan contoh yang terpampang di televisi tiap detik.

Saya tak menyadari. Saya menolak dengan keras pandangannya. Saya pikir ia mungkin merasa marah sebab ia memang tak selaras dengan ciri fisik di atas. Bagi saya cantik itu… yah tak jauh-jauh dari pemain utama sinetron kita.

Teman saya penggiat feminisme. Yang memperjuangkan konsep kemajuan kaum wanita.

Lalu berbilang tahun, baru saya menyadari. Memang harus kita akui selama ini hidup memang dijejali oleh realitas media. Kata cantik itu dipersepsi selaras dengan ciri diatas. Oleh media itu sendiri, oleh industri yang penuh dengan perhitungan laba dan rugi. 

Cantik itu seperti baligho terpampang di sudut dan pinggir jalan. Desainer sengaja dipesan untuk menampilkan perempuan lesung pipit dan rambut ikal. 

Film memang menampilkan wajah tirus dan panjang rambutnya, agar ia dinikmati selama durasi dua jam itu.

Dangdutan organ tunggal pun di timpali goyangan panas agar penyanyi nya tampak lebih cantik lagi.

Media massa adalah sebuah industri yang lengkap dengan manajemen, penjualan dan kreatifitas. Bahkan pada sebuah berita pun, Koran seringkali memuat judul  dengan nada tendensius, “Wanita cantik itu diduga korupsi 1 milyar”.  Atau “Gadis Cantik berkulit putih itu Meninggal Karena Overdosis.”

Media yang bikin cantik selaras dengan kulit putih. Iklan pun pada akhirnya harus memuat mereka pada ciri ini.

Iklan yang sebenarnya adalah eksploitasi wanita terselubung. Wanita adalah obyek penderita dalam dunia media massa. Sebuah dunia yang ruhnya adalah untung dan untung. ini adalah dunia kapitalisme bung !.

Maka jangan heran ketika, setiap jengkal tubuh wanita adalah ladang mengeruk keuntungan. Rambut untuk iklan Shampo. Tubuhnya untuk iklan lotion atau sabun mandi. Kakinya untuk sepatu. Jarinya untuk iklan obat kuat. Iklan yang ada adegan me-ngaumnya itu loh. Tubuh wanita adalah obyek.

Pantas saja teman saya itu bersitegang ketika bicara konsep cantik. Ia sangat tak setuju ketika penamaan cantik langsung disematkan berdasarkan ciri diatas. Kesalahan parahnya, bagi saya pendapat itu adalah pendapat umum juga.

Baginya cantik itu subyektif. Ia tak obyektif. Ia tak bisa dikenai langsung. Istilah itu tak bisa serta merta didasarkan pada kategori seperti yang saya sebutkan tadi. Ia masuk wilayah privat. Relativitas yang berada di relung masing-masing individu.

Itu kan kata media, Tamara cantik itu karena media yang bilang begitu. Ada benarnya juga.

Soalnya, di beberapa daerah konsep cantik memang tak sama dengan yang kita lihat di sinetron kita. Contohnya di Afrika sana. Wanita berkulit putih tak serta merta cantik bagi suku disana. Bahkan mungkin bisa dikira mayat hidup.

Suku di Asia tenggara, cantik itu kalau lehernya panjang. Lehernya panjang karena dipasangi cincin leher. Semakin banyak cincin semakin panjang leher. Maka para prianya menganggapnya cantik.

Di Papua Nugini, ada suku yang bilang cantik itu kalau tubuhnya di Tato sebadan-badan. Termasuk di Indonesia, suku di Nias yang menerapkan pola ini.

Saya pun yakin di beberapa daerah kita di Indonesia, kalau bicara ciri fisik cantik akan berbeda. 

Tapi pada akhirnya media lah yang bikin penyeragaman konsep itu. Akibatnya budaya semacam itu ditinggalkan. Dan orang pun berlomba-lomba membeli shampo dan lotion merk tertentu.

Ingin cantik seperti Agnes Monica, belilah sabun ini. Ingin seperti Luna Maya pakailah lotion ini. Ingin berkulit putih bersih gunakanlah pelembab yang diiklankan oleh artis A.

Dan masyarakat kita seakan berlomba. Mengejar konsep cantik. Mengeluarkan biaya bulanan untuk rutinitas cantik itu. 

Pada akhirnya, pemilik modal akan meraup untung besar. Mereka tak perduli apakah nanti shampo itu bikin kepala anda botak, atau muka anda bertambah jerawatnya. Bagi mereka, duit yang utama. 

Cantik kata media adalah semacam realitas baru yang coba disusupkan pada pendengarnya. Ia konsesus bersama. Ia adalah pembangkitan makna.

Kita pun tak akan pernah tahu seperti apa cantik di tahun 3000 nanti. Apakah model tubuh ramping kurang gizi itu masih bertahan. Atau bisa jadi kulit hitam yang jadi primadona.

Atau bisa jadi Omas adalah konsep cantik di abad 30 nanti. Kita tak akan pernah tahu. Pesan semacam, “Jangan menilai orang dari kulitnya” ada benarnya. Atau seperti istilah umumnya, cantik itu ada pada diri manusia masing-masing. 

Lebih adil pula kalo kita berfikir bahwa Perempuan sesungguhnya cantik. Dan tak perlu pula kita memaksakan konsep itu ke semua orang. Sebab tak semua orang bisa sepakat. 

Media lah yang sepakat bicara soal cantik. Kita seyogyanya tak termakan begitu saja.

Perempuan jadilah diri anda sendiri, biarkan lah orang lain yang menilai secantik apakah anda!. Kita yang paling tahu sebenarnya kita. Tak ada alasan untuk tidak bahagia.  (aksansanjaya)


  • i

1 komentar:

Muhammad Anas mengatakan...

mantap2 fotonya bang...salam kenal saya anas penikmat fotografi juak dari belitong,,,,wah kapan2 bloh saya belajar bang...:)