Rabu, 17 Juni 2015

Cerita Lima Hari Tur ke Nevada dan California

suasana di pier 39 san fransisco
Ada sejumlah hal yang menarik dari trip lima hari ke Nevada dan California minggu lalu. Saya akan ceritakan pengalaman jalan-jalan itu sebagai bahan inspirasi bagi pembuat kebijakan perwisataan terutama di Bangka Belitung, provinsi yang katanya negeri Laskar Pelangi ini. Cerita ini tidak bermaksud “ngambok” (sombongkan diri) namun sebagai maksud berbagi pandangan tentang mengelola spot wisata.

Pertama, Suku Indian Hualapai yang bertugas sebagai pelaksana lapangan bagi kunjungan wisatawan ke Grand Canyon. Kita tidak bisa seenaknya datang dan menepi di pinggir jurang itu tanpa berhenti dulu di pos utama. Mobil pribadi dan bus wisatawan akan parkir di gedung pusat ini, lantas membeli tiket tur. Tiketnya bervariasi tergantung pada jumlah spot yang dikunjungi. Ada spot “western culture”, “skywalk” dan “mountain view”. Jika ambil paket yang skywalk itu kita kena charge $80. Jika kita tak ambil paket jalan-jalan di jembatan melingkar terbuat dari kaca itu, cukup bayar sekitar $60.
  • i

Minggu, 03 Mei 2015

Spring, sebuah kegilaan kecil dari Tuhan



Sekarang Spring, diawali Maret hingga Mei sebagai penutup untuk menuju musim panasa (summer). Ia menandakan pohon-pohon akan kembali hijau, bertunas dan mekar segala bunga-bunga. Spring seolah menegaskan bahwa keindahan sebuah kelahiran. Awal dari sebuah siklus tumbuh kembang alam.

Betapa tidak, bunga-bunga akan mekar, warnanya merekah ditimpa sinar matahari. Langit biru diselingi awan-awan mungil. Ia menjadi latar bagi peristiwa ini. Pepohonan akan kembali diselimuti hijau dedaunan. Warnanya tak hijau tua, namun hijau muda. Setelah sebelumnya serbuk hijau itu akan bertebaran ke segala arah. Membikin lapisan hijau tipis pada segala hal di bawahnya.
  • i

Sabtu, 18 April 2015

DC, Washington DC, akhirnya sampai juga




Menginjakkan kaki ke ibukota negara adidaya, Amerika Serikat terasa spesial. Kekhususan itu saya alami selama lima hari dan empat minggu, 8-12 April 2015 dalam agenda seminar pengayaan Fulbright. Menginap di hotel terbaik, Marriot hotel yang lokasinya berada dekat dengan Capitol Hill dan White House itu. Saking dekatnya, anda tinggal berjalan saja ke tempat itu selain tentu saja beragam museum yang tersebar di sekitarnya. Terasa spesial lagi untuk agenda kali ini, saya tak perlu bayar, sebab semuanya ditanggung sponsor terbaik. Program Fulbright memang tidak main-main dalam men_treat penerima beasiswanya.
  • i

Sabtu, 04 April 2015

Belajar dari Silver Dollar City; Live Show Budaya Cowboy Amerika



 
Horse Man

Spring break kemarin, saya bersama teman-teman mahasiswa internasional Arkansas Tech University travelling ke Branson Missouri. Perjalanan wisata dua hari satu malam itu ternyata cukup berkesan dan mampu mengusir tekanan selama perkuliahan semester Spring ini. 


Branson di negara bagian Missouri adalah sebuah kawasan wisata yang cukup terkenal di daerah selatan. Seperti dikutip dari Wikipedia,”Branson has long been a popular destination for vacationers from Missouri and neighboring areas. The collection of entertainment theaters along 76 Country Boulevard (and to a lesser extent along Shepherd of the Hills Expressway) including Dolly Parton's Dixie Stampede, has increased Branson's popularity as a tourist destination. Branson now draws visitors from all regions of the country, mostly by car or bus.”

  • i

Minggu, 15 Maret 2015

Selain Dangdut,You Tube buat Selera Musik lebih Bervariasi


Semenjak di US, konsistensi bermusik tampaknya berubah-ubah. Akhir-akhir ini, I often listen to Lionel Richie, sejumlah lagunya Stuck on You, Hello and Lady kini mengiringi siang dan malam. Beberapa bulan lalu, saya terus-terusan  mendengarkan AXL’s dengan dua lagu pamungkasnya itu, Andai Dapat Ku Undur Masa dan Aku lah Kekasihmu. AXL’s ini bukan vokalisnya Gun Roses itu loh, tapi ini band melayu asal Malaysia. Saya mendengarkannya siang malam, ketika di Perpustakaan kampus atau di malam-malam yang dingin di dorm ketika jelang tidur. Kehadiran You Tube benar-benar membuat pilihan lagu menjadi kaya dan bervariasi. Untung saja saya belum pudeng* dengarkan lagu-lagu Sunda.

Entahlah, ada banyak hal yang bisa jelaskan mengapa saya bisa suka lagu-lagu tertentu untuk waktu tertentu. Yang pertama tentu saja, You Tube membuatnya mungkin. Kecepatan internet di US tidak usah diragukan lagi, tak ada istilah ngadat dan lelet. So, hampir dipastikan, mencari hiburan murah meriah yah dengan ber You Tube ria itu. Tak perlu bayar duit itu ini. 

  • i