Selasa, 08 April 2014

Kenapa susah cari kerja di Bangka ?


gara-gara susah cari kerja jadi ngiret kaleng. foto-koleksi pribadi
Pertanyaan mendasar bagi angkatan muda di Bangka Belitung adalah bekerja apa dan dimana. Angkatan muda yang saya maksudkan adalah mereka yang lulus Sekolah Menengah Atas atau Perguruan Tinggi. Mereka adalah fresh graduate dari puluhan SMA/SMK dan PT se Bangka, yang mengidamkan secepatnya mengkaryakan diri.


Tiap tahun diperkirakan ada ribuan SDM yang tersedia di Bangka Belitung. Bagi lulusan SMA/SMK ada yang lanjut kuliah ke luar daerah, meskipun kita tidak menutup mata, ada sebagiannya lagi yang lanjut kuliah di PT atau PTN di Bangka Belitung. Mereka yang kuliah di Bangka Belitung akan menambah lagi jumlah SDM potensial empat atau lima tahun kemudian.

Kemudian bagaimana dengan alumni PT/PTN di Bangka belitung. Mereka ini kemudian akan terpencar mencari lowongan kerja, berebutan antar mereka masing-masing. 

Jangan heran apabila, penerimaan Pegawai Negeri Sipil menjadi lowongan kerja yang paling favorit. Jumlah kursinya bisa jadi satu sahaja, namun peminatnya ratusan. Ini dari lokal saja, belum yang dari luar daerah. 


Lowongan PNS cuma sekali setahun. Itu pun, jika beruntung ada lowongan kerja, kalau tidak, yah terpaksa gigit jari menanti keajaiban. Jika tak PNS, lowongan kerja yang tersedia ada pada perusahaan pembiayaan (leasing) yang kemunculannya seperti jamur di musim penghujan itu. 

  • i

Rabu, 12 Maret 2014

Mampir di Pantai Air Anyir


 
pondok aik anyerr

Pantai yang terletak di desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka ini menawarkan pantai berpasir putih yang luas dan landai. Berjarak ±15 km dari kota Sungailiat dan 10 km dari Pangkalpinang, ia sering dikunjungi wisatawan lokal karena letaknya yang cukup dekat itu.


  • i

Senin, 24 Februari 2014

Why We Need Nature Lovers Organization



Indonesia produces 40 percent of the world’s tin[1]. Most of Indonesia’s tin production comes from Bangka Belitung Islands Province. Centuries of mining have changed Bangka’s soil function and left it in a critical state. The tin mining is conducted both on land and in the sea. The dredger exploitation has caused coral reefs to bleach[2] and anglers’catches have reduced to 20%.
This condition worsened after the public mining era, which started from 2000. Many farmers switch profession to tin miners. In addition, the mining management went out of control and disregarded the rules of environmentally friendly mining. The lacks of environmental awareness and unsupportive regional government policy have caused Bangka Belitung landscape to become more and more disordered. 
  • i

Selasa, 11 Februari 2014

Tanjung Tinggi Belitong





Kapan saat yang tepat berkunjung ke Tanjung Tinggi Belitong?, saat ini lah. Bulan lagi bersahabat, meski gelombang laut cukup kuat, namun cuaca biru dan penuh sinar matahari akan membuat visitasi kawan-kawan akan menjadi indah dan tak terlupakan.

Pantai Tanjung Tinggi akan menjadi jelas keindahannya ketika ditimpa sinar matahari berlatar langit biru itu. Saya akan menggambarkan Tanjung Tinggi sebagai sebuah pantai yang eksotik, seperti sepotong surga.

  • i

Rabu, 29 Januari 2014

Hijaunya Taman Kota Pangkalpinang

 
Taman Kota Pangkalpinang

Taman Merdeka Pangkalpinang adalah sebuah taman kota peninggalan Belanda yang masih tersisa hingga kini. Keberadaanya sejak masa penjajahan Belanda. Pada tahun 1814 Inggris menyerahkan pengelolaan pulau Bangka ke tangan Belanda berdasarkan Traktat London yang dilakukan oleh M. H Court yang mewakili Inggris dan K. Heynes yang mewakili Kerajaan Belanda. 
 

Pejabat Residen pertama Pangkalpinang adalah A.J.N Engelenberg. Belanda menjadikan Pangkalpinang sebagai ibukota keresidenan Bangka dengan Gedung Residen yang berdiri tepat didepan Taman Merdeka. Sudah semenjak dahulu lahan didepan Gedung Residen ini difungsikan sebagai alun-alun kota. 

  • i

Senin, 20 Januari 2014

Komfos, Tak Cukup Sekedar, untuk Jadi Besar

foto bersama dengan komunitas fotografer se Bangka Belitung pada Milad IV Komfos di Sungailiat


Tak terasa sudah empat tahun, Komunitas Fotografer Sungailiat (Komfos) hadir di kota Sungailiat. Didirikan pada 16 Januari 2010, direntang usia tersebut, telah banyak kegiatan yang telah dilakukan, apakah berbentuk sosial, pendidikan selain fotografi. Meskipun terbilang muda, namun semangat untuk makin berkarya tak padam dan terbukti pada awal tahun ini Komfos hadir dalam semangat baru lewat statement positioning, “Mandiri, Kreatif dan Berwawasan luas.”


Semangat itulah yang coba ditularkan pada Sabtu (18/1) kemarin, lewat seremoni Milad Keempat Komfos. Bertempat di Sekretariat baru di Ruko Air Ruai Sungailiat, Komfos peringati hari lahirnya dengan rangkaian kegiatan sederhana namun bermakna, yakni Workshop dasar “portrait” untuk pelajar tingkat SLTA se_Sungailiat dan Hunting bareng antar komunitas fotografer yang ada di Bangka.
  • i

Selasa, 31 Desember 2013

Renungan Akhir Tahun, Beberapa asumsi atau persepsi yang salah mengenai fotografi


Tulisan ini tidak untuk menciptakan labilisasi hati gara-gara salah satu asumsi atau persepsi ini ada di anda. Jangan merasa saya kemudian terkesan sok-sok_an terkesan paling jago foto. Jujur saja saya orang biasa saja yang hobi foto, dan bersusaha untuk belajar dan selalu belajar. Agar foto yang saya hasilkan tepat pada sasaran dalam artian diterima dalam konteksnya. Misalnya, foto di perayaan pernikahan mampu memuaskan pelanggan saya, atau foto tersebut dapat dimuat di harian lokal, karena memenuhi syarat jurnalistik. Tulisan ini semata lahir, dari pengalaman pribadi sekaligus pergaulan dengan sesama rekan fotografer.

Persepsi pertama yang salah adalah “Semakin canggih gear maka semakin baik hasil foto”. Adalah benar jika saat ini, sejumlah brand terkenal mengeluarkan puluhan tipe dan jenis DSLR dengan keunggulan masing-masing. Ada ratusan lensa yang muncul dengan harga yang alang kepalang. Ada kemudian, pemilahan kelas-kelas user, seperti pemula, amatir dan professional. 

  • i