Rabu, 01 Oktober 2014

Red Wallet ; the Lonely Man











The video is my first silent film and also my first movie I make. Red
Wallet is the story of the lonely man after being left by his
girlfriend. The story is made as the assignment of the Visual Story
Telling Course.



Video taken by Nikon D90 & 18-105 mm f 3,5-5,6

Edited by Adobe Premiere. Backsound music from

Laluna- Selepas Kau Pergi

Dewa-Pupus

India-Never Say Good Bye



  • i

Selasa, 30 September 2014

Benarkah Jurnalisme Indonesia telah mati?



Pilpres dan Pileg telah usai. Kini kita punya Jokowi JK dan ratusan anggota DPR yang akan segera bertugas untuk lima tahun kedepan. Seharusnya perang tak lagi ada. Yang ada adalah kedamaian dan meminjam istilah ABG sekarang-Move ON. Perang memang tak ada lagi, namun baranya masih dipelihara. Media arus utama kita begitu sibuknya memelihara bara itu dengan tujuan yang patut dipertanyakan.


Politik tetaplah politik dalam pengeritan sempitnya,perebutan kekuasaan. Seyogyanyalah agenda utama itu tetap disana bukan di meja redaksi. Redaksi berita seharusnya berkutat pada pemenuhan narasi fakta bagi publik bukan terlibat sebagai partisan atau supporter. Jurnalisme seharusnya dikembalikan pada akar sejarahnya, kritik pada dominasi mayoritas berpihak pada minoritas. Agenda utamanya adalah kebenaran. 


Namun, prilaku media beberapa tahun ini seperti kehilangan jati diri. Tak pelak ini mengundang tanya. Sejauh mana kemaslahatan publik menjadi prioritas ditengah keberpihakan media mainstream ini. Tengoklah sejumlah teguran KPI kepada sejumlah televisi swasta kita karena liputan tak imbang dan cenderung partisan ketika menyiarkan tokoh politik pada kampanye kemarin. Hal yang kita ketahui tentu saja televisi ini memang dikuasai konglomerat yang sekaligus tokoh politik. 


Lantas masih adakah media arus utama yang jadi pijakan dalam memberikan narasi objektif itu. Saya ingat ada Tempo. Semasa belajar jurnalistik, saya pikir Tempo adalah terbaik. Mereka melewati dominasi Orde Baru dengan gagah. Itu tercatat dalam sejarah. Sama ketika kasus aneh pencemaran nama baik, Tomy Winata VS Tempo. Saya terasa mendidih ketika praktik jurnalistik dianggap bagian dari pencemaran nama baik.

  • i

Sabtu, 30 Agustus 2014

untuk Pelita pelita

Jika angin bisa berkata, tempuhlah samudera biar ku bawa
peluk tuan meski sebentar, untuk pelita pelita penghuni rumah

Jika angin bisa berkata, terbanglah kami di puncak langit
kami bawa air mata tuan, pada lentik jemari berhimpitan

Cinta dititipkan pada ujung cemara
agar angin dari gunung bawa ia
pada mereka
yang bermain bersama

"For my angles, Hope you all be fine and always be cheer up, smile, grow healthier, Miss You all"
(aksansanjaya. Russelville. AR)
  • i

Enam Minggu di Kansas University





Akhirnya, satu bulan lebih lewat, dan kami harus meninggalkan Lawrence, dimana Kansas University berada. Sebuah kota kecil dan universitas yang sama-sama indah dan megah.

Rasanya tak ingin berpisah ketika Rabu, 13 Agustus tiba, hari terakhir bagi kami sebagai peserta Pre Academic Program Kansas University. Sejak dimulai 29 Juni lalu, enam minggu lamanya 21 peserta dari berbagai negara digembleng dalam satu rasa dan satu asa, sehingga tak bisa dipungkiri kami terikat secara emosi satu sama lain. Sehingga ketika Rabu terakhir itu tiba, ada sedih terasa. Masing-masing akan terbang menuju universitasnya masing-masing yang tentu saja tersebar di seluruh kota di US.

  • i

Minggu, 27 Juli 2014

Berlebaran Tak Cukup Broadcast Pesan



Idul Fitri akan segera tiba dalam hitungan jam. Besok pagi keluarga dan handai taulan akan bergegas ke masjid, bersama ratusan orang lainnya. Wajah-wajah mereka ceria dan hati dipenuhi suka cita, bukan karena baju koko baru dan mukena baru itu, namun karena ada bahagia di satu Syawal. Yah, hari pertama selepas Ramadhan adalah tentang bergembira dan pemaafan pada segalanya.

Kita kemudian akan melupakan sejenak pertempuran Juli kemarin. Para orang tua akan duduk tegak, dan anak, menantu serta cucu akan membungkuk. Menengadahkan kedua telapak tangan, memohon maaf atas salah dan khilaf setahun lalu. Sanak keluarga akan datang berkunjung dan berjumpa seraya bertangisan. Sepupu jauh meski letih sehabis jet lag, akan tersenyum bahagia menjumpai orang tua dan keluarga. 

Sesudahnya, riuh rendah ruang keluarga dan dapur dipenuhi seperadik saudara datang bertamu, sembari membelah ketupat dan menakar rendang, menuang sup, mencicipi sambal bawang, memotong kecil lepat, menyendoki gulai ayam panas kemudian menyajikan dan melahapnya diatas meja bertaplak kain baru bermotif bunga kenanga. 

  • i

Senin, 07 Juli 2014

Living at Lawrence

Ketika saya menulis cerita ini, saya sedang berada di Lawrence Kansas City, US. Sebuah tempat yang sangat jauh, sekitar 15000 km jauhnya dari Indonesia. Sebuah kota kecil yang indah, dimana Kansas University berada. Sejak 1 Juli lalu saya menginjakkan kaki ke negeri Paman SAM ini, terhitung sudah enam hari saya disini.
 
Yah, Lawrence tak pernah saya dengar sebelumnya, adalah sebuah kota pendidikan, dimana sepertiga penduduknya adalah mahasiswa dari 80 ribuan total penduduknya. Kota kecil namun daerah midwest ini menawarkan rasa Amerika yang asli. Rumah-rumah dan tamannya memberikan flashback tentang film-film Koboi yang saya tonton dahulu. Belum lagi, hektar_an kebun jagung dan kentang terhampar luas disisi kiri kanan jalan, menegaskan lagi suasana ala barat yang liar yang kental kuda dan pistol serta topinya.


Kansas Union tempat orientasi mahasiswa di KU

  • i

Rabu, 04 Juni 2014

Padepokan Tiga Agama di Kaki bukit Rebo


Pemandangan Pagoda dari bawah
Padepokan ini bisa menjadi icon wisata baru di Sungailiat. Letaknya yang berada diatas perbukitan, membuatnya seolah menjulang ke angkasa. Diantara perbukitan Jalan Pantai Tikus Rebo – Sungailiat, warna merah tua atapnya kontras dengan hijau pepohonan. Ditambah jalan aspal menuju bangunan ini lebih rendah, sehingga pengunjung melihatnya makin megah dan gagah.

Ada yang menamakannya pagoda, kuil, kelenteng atau vihara. Sejauh ini belum ada informasi pasti mengenai nama bangunan ini. Informasi singkat, bangunan ini dibangun oleh yayasan beretnis Tiong hoa, Yayasan Bangka Jaya Lestari. Bangunan itu disebut Padepokan Kebudayaan Bangka dibangun sejak sekitar 2008 silam.  

  • i